Indonesia : Riwajatmoe Kini

Oleh : Ordinary Kid

Saat saya bermain [baca: sekolah formal-red] dulu, salah seorang guru geografi pernah berkata dengan bangga, “Anak-anakku sekalian, Indonesia adalah negara kepulauan dengan pulau yang berjumlah tak kurang dari 17 ribu buah yang terhampar mulai dari Sabang sampai Merauke. Indonesia juga memiliki posisi yang sangat strategis karena diapit oleh dua benua [benua Asia dan benua Australia] dan dua samudera [samudera Hindia dan samudera Pasifik]. Beliau menambahkan, “Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, mulai dari sektor pertambangan, sektor kelautan, sektor kehutanan hingga sektor pariwasata”. Lanjutkan membaca ‘Indonesia : Riwajatmoe Kini’

Zzzz… Zzzz

Oleh : Ordinary Kid

Pernah mendengar sebuah dongeng klasik masyhur yang berjudul Putri Salju dan tujuh kurcaci? Dongeng tersebut menceritakan seorang gadis cantik yang makan sebuah apel merah dari pemberian si nenek sihir, kemudian dia tertidur dalam waktu yang cukup lama hingga pada akhirnya seorang pangeran tampan mencium bibirnya. Dan putri saljupun terbangun dari tidur panjangnya. Then, they living together with happy. Forever. Lanjutkan membaca ‘Zzzz… Zzzz’

Kartun Muhammad: Representasi Islamofobia di Indonesia?

Oleh: Ordinary Kid

Si tikus yang pengecut
Atas nama serigala,
Menghina singa,
Memprovokasi serigala,
Kata-katanya yang dibalut retorika,
Mulutnya yang diselimuti busa,
Mencoba menarik simpati serigala bermental tikus,
Singa yang tidur dengan lelapnya,
Terusik lagi,

Kartun Muhammad muncul [lagi]. Apakah sebuah bukti nyata adanya penyakit Islamofobia (baca:anti Islam-red) di Indonesia? Runnymede Trust, seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai:

rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga kepada semua muslim. (Islamophobia: A Challenge for Us All, 1997).

Sebenarnya istilah ini sudah ada sejak 1980-an, tetapi menjadi lebih populer pasca peristiwa 11 September 2001. Islamofobia meningkat secara rapid di Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa tahun silam, koran terbesar di Denmark, Jyllen-Posten menghina Nabi Muhammad SAW yang divisualisasikan lewat sebuah karikatur atas nama kebebasan pers. Begitupula, seorang politisi Belanda, Geert Wilders, meluncurkan film berdurasi pendek yang diberi judul Fitna, yang kembali memancing amarah umat Islam. Lanjutkan membaca ‘Kartun Muhammad: Representasi Islamofobia di Indonesia?’

Dari Serakah Menuju Syukur

Oleh: Ordinary Kid

Sebelum membaca tulisan ini, hendaklah menggunakan akal yang jernih dan hati yang tenang, buanglah pikiran dan perasaan yang penuh dengan kesinisan, kebencian, dan permusuhan.:mrgreen:

Pada zaman Rasulullah ada suatu kisah menarik yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Kurang-lebih begini ceritanya. Lanjutkan membaca ‘Dari Serakah Menuju Syukur’

Presiden George W. Bush : Presiden Terburuk Sepanjang Sejarah AS

Oleh : Ordinary Kid

Begitulah komentar para pengamat politik di Amerika Serikat menilai presiden AS ke-43 ini. Presiden yang berasal dari partai Republik ini dianggap telah melakukan blunder dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak populer pasca tragedi World Trade Center (WTC) 11 September 2001 silam. Neraca keuangan Amerika Serikat yang sempat menyentuh surplus pada masa presiden sebelumnya, Bill Clinton, kini telah mencapai defisit hingga lebih dari 400 milliar dollar AS, sebuah titik klimaks yang fantastis di penghujung era kepemimpinan George W. Bush (lihat diagram). Defisit anggaran AS ini banyak tersedot dalam perang melawan “terorisme” di Afghanistan dan Irak yang hingga kini belum dimenangkan oleh pihak sekutu -AS-. Lanjutkan membaca ‘Presiden George W. Bush : Presiden Terburuk Sepanjang Sejarah AS’

Partai “Nasionalis” atau “Relijius”?

Oleh : Ordinary Kid

Menjelang hiruk-pikuk pesta demokrasi tahun 2009, partai-partai politik mulai bermunculan bak cendawan di musim hujan. Hari ini muncul, besok menghilang. Fenomena yang sudah terjadi semenjak tahun 1999 ini memang konsekuensi dalam proses demokratisasi di Indonesia. Mulai dari partai-partai bayi sampai partai-partai kepingan partai-partai kegemukanpun mengumumkan akan bertarung dalam arena pemilu 2009. Alhasil, pemilihan umum kali ini sungguh membingungkan para pemilih. Seperti partai politik yang mulai menjamur, kali ini acara parodi politikpun mulai menancapkan giginya di media elektronik, sesuatu yang new bagi perjalanan demokrasi kita. Lanjutkan membaca ‘Partai “Nasionalis” atau “Relijius”?’

Pengamen Hebat!

Oleh : Ordinary Kid

Hampir setiap hari saya pulang-pergi diantar-jemput oleh bis Mayasari P82 Jurusan Tg.Priok-Depok untuk ngampus. Di kotak besar persegi panjang berwarna biru yang bisa berjalan inilah, saya melihat berbagai fenomena sosial yang merupakan secuil potret sulitnya hidup di Jakarta, mulai dari pedagang asongan, penjaja air mineral, penjual koran, penjual buku-buku bajakan, penjual permen asem, penjual alat-alat aneh multifungsi, sampai pengamen. Tujuan utama mereka hanya satu, mencari sesuap nasi.

Pengamen, ya, profesi yang dianggap rendah yang saya sebutkan terakhir tadi, sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mungkin sebagian dari kita merasa risih dengan kehadirannya, mulai dari terganggunya istirahat kita di dalam bus dengan suara sumbangnya, maksa ngamen padahal bis sudah penuh, sampai suka maksa minta duit kalau tidak dikasih.

Eiittt, jangan salah dulu. Saya justru menemukan fakta yang mengejutkan di balik kehadiran mereka. Meskipun begitu pengamenpun ada jenisnya, yaitu: Lanjutkan membaca ‘Pengamen Hebat!’