Indonesia : Riwajatmoe Kini

Oleh : Ordinary Kid

Saat saya bermain [baca: sekolah formal-red] dulu, salah seorang guru geografi pernah berkata dengan bangga, “Anak-anakku sekalian, Indonesia adalah negara kepulauan dengan pulau yang berjumlah tak kurang dari 17 ribu buah yang terhampar mulai dari Sabang sampai Merauke. Indonesia juga memiliki posisi yang sangat strategis karena diapit oleh dua benua [benua Asia dan benua Australia] dan dua samudera [samudera Hindia dan samudera Pasifik]. Beliau menambahkan, “Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, mulai dari sektor pertambangan, sektor kelautan, sektor kehutanan hingga sektor pariwasata”.

Salah seorang guru sejarah juga pernah bilang tak kalah bangganya, “Tahukah kalian anak-anakku, dahulu ada dua kerajaan yang sangat besar [Kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya] di Nusantara. Kerajaan Majapahit mengalami puncak kejayaan di masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada sebagai patihnya yang berhasil menguasai seluruh wilayah Nusantara, termasuk daerah yang kini bernama Singapura, Brunei Darussalam, Philipina, dan Malaysia”.

Beliau menimpali, “Begitupula dengan kerajaan Sriwijaya, di tangan Balaputradewa menjadi imperium maritim dengan armada laut yang sangat tangguh dengan menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara, termasuk daerah yang kini bernama Sri Lanka dan Philipina. Mereka mengendalikan jalur perdagangan dari India sampai Tiongkok. Ibnu Battuta [petualang Muslim] mencatat bahwa masyarakat kerajaan Sriwijaya saat itu sangatlah makmur”.

– – – – –

Pikiran saya sempat terhanyut ketika membaca kembali romantisisme kemegahan Indonesia di masa lampau. Tak lama. Tersadarkan oleh realitas saat ini yang justru berkebalikan 180 derajat.

Indonesia yang dulu dipuja-puja, kini ditertawakan. Indonesia yang dulu disegani, kini diremehkan. Apakah mungkin nantinya sejarah tersebut hanya menjadi legenda atau dongeng? Apakah kejayaan Indonesia di masa lampau akan tertutup oleh kompleksitas masalah yang senantiasa membelenggu bangsa Indonesia saat ini?

Kemiskinan yang semakin menjerat leher rakyat kecil di tengah kekayaan alam negeri ini [busung lapar terjadi di negeri agraris?].

Pengangguran yang membelenggu di tengah segelintir orang yang berselimutkan harta [Impact krisis kapitalisme memperburuk keadaan] .

Kesehatan yang sangat riskan akibat biaya yang mencekik leher [lebih baik ke dukun daripada ke dokter. Bukan begitu?].

Pendidikan yang belum menyentuh semua rakyat akibat mahalnya biaya dan kurangnya akses terhadap pendidikan [Pendidikan gratis? Masih jauh dari angan-angan].

Keamanan dalam negeri yang terkadang tak menentu diakibatkan konflik SARA [Konflik yang sepele yang dimunculkan orang-orang pengecut].

Pertahanan luar negeri yang sangat lemah sehingga mudah diolok-olok oleh negara asing [Kebanyakan pulau sampai bingung menjaganya].

Lingkungan yang semakin memprihatinkan [Bioma hewan di Indonesia dihancurkan oleh cukong-cukong pandir].

Hasil kekayaan alam Indonesia yang justru lari ke tanah asing [Freeport menghisap darah Indonesia].

Teknologi yang justru terdegradasi [Industri pesawat terbang yang menjadi harapan sebagai titik tolak kemajuan Indonesia dihancurkan oleh IMF]

Hmm.. Semoga saja Indonesia akan menjadi kekuatan yang berpengaruh seperti yang telah diprediksi dalam sebuah laporan “Global Trends 2025” oleh dewan intelijen nasional dan intelijen AS. Dan mengukir kembali tinta emas sejarah peradaban di bumi pertiwi.

 


Ps :

Jangan bertanya apa yang bisa negara berikan untuk Anda, tetapi tanyalah apa yang bisa Anda berikan untuk negara [John F. Kennedy]

Iklan

17 Responses to “Indonesia : Riwajatmoe Kini”


  1. 1 sarahtidaksendiri Desember 5, 2008 pukul 11:30 am

    Coba Qta googling, bgtu Qta mncri dgn keyword bencana dunia..Indonesia berada di urutan pertama….karena hampir semua bencana yang ada di dunia ini, telah dialami oleh Indonesia…
    Entah, mengapa..berdosakah Qta? Marahkah Tuhan pada Qta? Ataukah mmg hanya sebuah Ujian dari Tuhan???
    Entah, mengapa Qta pun tidak pernah mau belajar dr keterpurukan ini…
    aQ sangat mencintai negeri ini, karena itu aQ sangat sedih…
    Tak pernah hilang harapan agar Indonesia ini kembali benar2 bangkit dan merdeka kembali, agar guru2 di sekolah, tidak lagi bilang “Tahukah Kalian , anak2ku..dahulu blablablabla” tp menjadi “Tahukah kalian, anakku…sekarang/sampai sekarang/sekarang ini/saat ini dan seterusnya blablablabla”
    🙂

  2. 2 ical Desember 6, 2008 pukul 10:59 am

    apakah ini karena Indonesia adalah negara kesatuan sehingga daerah yang terlalu luas itu sulit teramati satu persatu? mungkinkah pandangan Hasan Di Tiro soal negara federal bagi Indonesia itu benar? gimana nih bung? bingung saya..

  3. 3 t4rum4 Desember 6, 2008 pukul 2:41 pm

    Kebodohan masuknya kemana yah?

  4. 4 Ordinary Kid Desember 6, 2008 pukul 4:54 pm

    @ sarahtidaksendiri:
    Setuju, sejarah bukan hanya sebuah romantisisme, yang terpenting adalah mengambil pelajaran darinya. 🙂

    @ ical:
    Konsep negara federal?? Sepertinya terlalu rawan perpecahan bagi Indonesia yang penuh dengan keragaman ini. Bukankah pemerintah Indonesia sudah menerapkan sistem desentralisasi yang setidaknya sudah memberikan keleluasaan bagi daerah untuk mengembangkan potensinya? 😉

    @ t4arum4:
    Kebodohan merupakan hasil dari kolaborasi kemiskinan dan masalah pendidikan yang tidak berkualitas. 🙂

  5. 5 Rian Xavier Desember 8, 2008 pukul 1:57 am

    Hmm.. Ironis banget memang kalo inget pada jaman Sriwijaya. Sejarawan siapa yang ga taw sriwijaya. Tapi bagaimana dengan sekarang.. Jangankan begitu, untuk menjadi negara berkembang saja kita sulit apalagi negara maju. Terlalu banyak konspirasi dan korupsi di dalamnya. Kurang kesadaran dari antara para pemimpin. Maaf terlebih dahulu buat para pemimpin, tapi tak punyakah hati kalian? Padahal para pemimpin yang korupsi adalah mereka yang lahir dari Indonesia. Seharusnya mereka mencintai negara ini. Para cukong2 yang ada sekarang, juga lahir di INdonesia. Tidak malukah mereka?

    Harusnya ini jadi cerminan diri buat kita semua.

  6. 6 grace Desember 9, 2008 pukul 10:45 am

    well, then lets do our best to our beloved country, shall we? 🙂

  7. 7 vaya Desember 11, 2008 pukul 9:21 am

    umm… gw inget, waktu UTS mata kuliah kewargangaraan, ada pertanyaan, banggakah kamu menjadi bangsa Indonsia? Mengapa? dan gw jawab, “Bangga ga bangga toh saya tidak punya pilihan lain”

    stupid, huh?

    coba kalo semua orang punya pikiran kaya gw waktu itu..

    well, kalo gw bilang siih..
    ga usa muluk muluk dulu..

    asal orang indonesia bisa diajak disiplin aja.. tertib pake helm kalo nae motor, tertib rambu-rambu, gag makan jalan orang (seriously, it’s an expression.. konotasi!), naatin jam kantor, ga buang sampah sembarangan, ga lupa saling ngehargain, pasti Indonesia bakal lebi bae..

    salam merah putih!

  8. 8 nurrahman18 Desember 11, 2008 pukul 9:33 am

    emang pusing klo mikirin indonesia dengan penduduk 250-an juta juwa…piuff……
    klo menurut ku, yang sekarang terjadi adalah belum ada keberpihakan penuh dari pemimpin2 kita kepada rakyat……masih kalah sama “lobi politik”, “investor asing”, “isu teroris dan HAM”….kita butuh khalifah indonesia yang berjiwa pemimpin 250 juta umat. pemimpin yang tak bisa tidur kala mendengar penggusuran PKL yang membuat ibu-ibu pedagang menangis, pemimpin yang tak bisa piknik ke luar negri karena tau bahwa ada rakyatnya yang kelaparan, dan pemimpin yang susah tidur nyenyak karena kebutuhan pupuk petani langka di pasaran…

  9. 9 muhammadsugiono Desember 11, 2008 pukul 4:56 pm

    kini saatnya kita jadi problem solver bukan jd problem maker.
    tapi temen2 gibol bilang: enak reek…jd problem maker. bikin seruu.
    iya nggak seh?

  10. 10 Humor lucu Desember 11, 2008 pukul 5:02 pm

    Yang menjadi pertanyaan kita, faktor apakah yang menjadikan Indonesia menjadi negara berpengaruh tahun 2025 seperti yang dirilis NIC tersebut? hal inilah yang hrs kita jwab dan kita optimalkan, agar ramalan itu menjadi kenyataan. Yang menggembirakan dalam analisa itu juga menyebutkan semakin lemahnya AS he he he

  11. 11 randualamsyah Desember 13, 2008 pukul 8:21 am

    apa-apa, gimana-gimana, Ia tetap Indonesia kita. Tempat kita lahir, tinggal, dan Insya Allah menutup Mata….

  12. 12 randualamsyah Desember 13, 2008 pukul 8:22 am

    apa-apa, gimana-gimana, Ia tetap Indonesia kita. Tempat kita lahir, tinggal, dan Insya Allah menutup Mata..

  13. 13 s H a Desember 17, 2008 pukul 5:09 pm

    Yang penting mungkin bukan mengagungkan sejarahnya ya. Tapi dengan mempelajari sapa tau jadi ingin menyamai. Nah, sekarang tinggal apa yang kita lakukan untuk mengatasi masalah2 berfont tebal *halah* yang ditulis di atas

  14. 14 Rian Xavier Januari 13, 2009 pukul 1:11 pm

    mau informasi nih. Blog saya sudah pindah dari wordpress ke blog baru d-revoz.com. jangan lupa kunjung yach. (^_^)

    NB : Blogrollnya juga diganti ya. Hehehee.

  15. 15 alid abdul Januari 24, 2009 pukul 12:57 am

    Jah begitulah kiranya

  16. 16 nurrahman18 Februari 13, 2009 pukul 9:22 am

    sampeyan kemana bos? ga pernah nongol lagi di blog?

  17. 17 hasrul Desember 3, 2009 pukul 11:59 am

    Semangat indonesiaku..!! Maju..!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Status

Temporary busy

I'm sorry

Yahoo! Messenger:

der_kaizernism

Column

Tourist Now

Total Tax

  • 9.414 juta
Iklan

%d blogger menyukai ini: