Dari Serakah Menuju Syukur

Oleh: Ordinary Kid

Sebelum membaca tulisan ini, hendaklah menggunakan akal yang jernih dan hati yang tenang, buanglah pikiran dan perasaan yang penuh dengan kesinisan, kebencian, dan permusuhan. :mrgreen:

Pada zaman Rasulullah ada suatu kisah menarik yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Kurang-lebih begini ceritanya.

Pada suatu hari, Rasulullah berjalan melewati pasar, dimana ketika itu para sahabat sedang sibuk berdagang. Rasulullah melemparkan senyum dan salam kepada setiap para sahabat yang ditemuinya. Pada suatu langkah, pandangan beliau tertuju pada sebuah bangkai kambing berkuping pendek. Beliau berdiri di tempat yang lebih tinggi.

Beliau berkata kepada para sahabat, “Wahai saudaraku, apakah ada di antara kalian yang menginginkan bangkai kambing ini dengan harga satu dirham?”. Para sahabat memandang beliau dengan heran. Salah seorang sahabat menjawab. “Wahai Rasulullah, kami tidak memerlukan bangkai tersebut. Apa yang bisa kami perbuat dengan itu?”. Rasulullah tersenyum. Beliau kembali bertanya kepada semua sahabat “Lalu, apakah ada diantara kalian yang menginginkan bangkai kambing ini secara gratis?”.

Salah seorang sahabat yang lain berkata, “Demi Allah, meskipun kambing itu masih hidup, ia berkuping pendek (cacat)”. Rasulullah kembali menyunggingkan senyum.

Rasulullah kembali berkata, “Ingatlah Saudaraku, bahwasannya dunia ini lebih remeh dibandingkan bangkai kambing ini”.

Kecerdasan beliau sangat jelas terlihat ketika beliau menasihati para sahabat [yang sedang berdagang] dengan menganalogikan dunia dengan bangkai kambing berkuping pendek. Tujuannya adalah agar mereka tidak tamak [serakah] terhadap dunia.

Keserakahan telah menimbulkan masalah ekonomi dalam ilmu ekonomi, yaitu kebutuhan manusia yang tidak terbatas dihadapkan pada alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Keserakahan pula yang membuat banyak orang tergiur menjadi koruptor dan merampas hak rakyat. Keserakahan pula yang telah menyebabkan bani Israil dikutuk menjadi kera karena tergiur oleh banyaknya ikan, padahal Tuhan melarang mereka melaut pada hari itu. Keserakahan pula yang telah membuat Qarun, salah seorang yang hidup pada zaman Nabi Musa a.s, tertimbun ke dalam perut bumi bersama seluruh hartanya dengan izin Allah SWT. Keserakahan pula yang telah membuat jutaan orang tewas ketika Amerika ingin menguasai ladang minyak milik Irak. Ingatlah, keserakahan tidak akan pernah membawa kebaikan!

Keserakahan merupakan penghalang bagi kita [termasuk saya] untuk bersyukur. Dalam konsep Islam terdapat istilah qana’ah, sebuah akhlak yang [seharusnya] dimiliki oleh setiap muslim. Qana’ah berarti menerima apa adanya pemberian dari Allah SWT [konsep hidup sederhana]. Mungkin inilah, krisis yang dihadapi oleh kita semua.

Salah seorang pakar psikologi pernah berkata bahwa, “Kebanyakan orang selalu berpikir apa yang tidak mereka miliki dibandingkan berpikir apa yang mereka miliki”. Tidak perlu jauh-jauh, coba kita lihat diri kita!

Coba raba kedua mata Anda yang masih berfungsi dengan baik untuk melihat! Raba kedua buah telinga Anda yang masih berfungsi dengan baik untuk mendengar! Raba kedua buah lubang hidung Anda yang masih berfungsi dengan baik untuk bernafas! Lihat betapa dahsyatnya otak [akal] yang masih berfungsi dengan baik untuk berpikir! Dan raba anggota tubuh kita yang lain, yang banyak orang lain menginginkannya. Ingatlah setiap nikmat yang Tuhan anugerahkan kepada Anda dari ujung rambut hingga ujung kaki! [Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan]

Bayangkan orang buta yang sangat berharap dirinya dapat melihat dengan normal seperti kita! Bayangkan orang yang tuli berpikir dirinya dapat mendengar dengan baik seperti kita! Bayangkan orang yang lumpuh kakinya bermimpi, mampu berjalan dengan baik seperti kita! Dan masih banyak orang yang mengimpikan diri mereka normal seperti kita! [Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya].

Maukah Anda menukar kedua bola mata Anda dengan limosin, sementara Anda buta? Maukah Anda menukar akal Anda dengan gunung emas setinggi Mount Everest, sehingga Anda mengalami kegilaan yang hina? Maukah Anda menukar jantung Anda dengan perusahaan Om Bill Gates, sementara Anda terbaring lemas di rumah sakit menggunakan alat pengganti jantung guna memompa darah ke seluruh tubuh Anda? Maukah Anda menukar satu jari Anda dengan notebook TOSHIBA yang harganya puluhan juta, sementara satu jari Anda buntung? Maukah Anda menukar kedua kaki Anda dengan jabatan direktur di sebuah perusahaan yang besar, sementara Anda melata seperti ular? Ingatlah Saudaraku, diri Anda lebih baik dari dunia dan seisinya. [Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?]

Renungkanlah sekali lagi apa yang ada pada diri Anda, keluarga Anda, teman Anda, pekerjaan Anda, rumah Anda, dan apa saja yang ada di sekeliling Anda. !

“Sesungguhnya barang siapa yang bersyukur terhadap nikmat-Ku, niscaya akan bertambah nikmat-Ku kepadanya. Dan Barang siapa yang kufur terhadap nikmat-Ku, ingatlah, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”

Tulisan ini sesungguhnya hanya sebuah renungan pribadi, tetapi jika ada yang terlanjur membacanya, ambil hikmahnya. 🙂 Dan janganlah kita termasuk golongan orang-orang yang ingkar terhadap nikmat-Nya.

Wallahua’lam

Iklan

0 Responses to “Dari Serakah Menuju Syukur”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Status

Temporary busy

I'm sorry

Yahoo! Messenger:

der_kaizernism

Column

Tourist Now

Total Tax

  • 9.429 juta
Iklan

%d blogger menyukai ini: