Partai “Nasionalis” atau “Relijius”?

Oleh : Ordinary Kid

Menjelang hiruk-pikuk pesta demokrasi tahun 2009, partai-partai politik mulai bermunculan bak cendawan di musim hujan. Hari ini muncul, besok menghilang. Fenomena yang sudah terjadi semenjak tahun 1999 ini memang konsekuensi dalam proses demokratisasi di Indonesia. Mulai dari partai-partai bayi sampai partai-partai kepingan partai-partai kegemukanpun mengumumkan akan bertarung dalam arena pemilu 2009. Alhasil, pemilihan umum kali ini sungguh membingungkan para pemilih. Seperti partai politik yang mulai menjamur, kali ini acara parodi politikpun mulai menancapkan giginya di media elektronik, sesuatu yang new bagi perjalanan demokrasi kita.

Namun, masyarakat agaknya cukup gerah dengan kinerja sebagian besar partai politik pasca reformasi yang cenderung lebih memprioritaskan kepentingan partainya dibandingkan kepentingan rakyat. Survei yang dilakukan oleh Indo Barometer pada akhir tahun 2007 terhadap 33 provinsi di Indonesia menyatakan bahwa 47,5 % masyarakat tidak puas dengan kinerja parpol dan hanya 38% yang menyatakan parpol telah memperjuangkan kepentingan rakyat.

Usulan untuk membentuk sistem dwipartai -seperti AS-pun sempat muncul demi meningkatkan efisiensi pertarungan pemilu. Fenomena golputpun kian marak terjadi, pilkada yang baru berlangsung telah membuktikan hal tersebut, yang tentunya berdampak pada krisis legitimasi terhadap pemerintah yang terpilih.

Yang menjadi pertanyaan adalah partai apa yang akan saya pilih pada pemilu nanti? Apakah golput saja? Tetapi saat ini saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang masalah golput. Survei yang dilakukan oleh LSI pada Oktober 2008 menunjukkan PDI-P dan Golkar bersaing ketat menjadi yang terdepan dengan kisaran yang sama, yakni 18%. Sementara Demokrat dan PKS menempati masing-masing peringkat ketiga dan keempat. Cukup ironis apabila dikomparasikan dengan UU Pilpres yang menetapkan 25% suara dan 20% kursi DPR, jika tidak digagalkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui pihak-pihak yang melakukan judicial review.

Memilih partai nasionalis atau relijius merupakan salah satu alasan para pemilih mencoblos partai tersebut. Jika dilihat dari platform partai politik, maka sebagian besar parpol terbagi menjadi dua bagian, yakni partai nasional dan partai relijius. Tetapi anehnya, parpol justru tidak konsisten dengan membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan jargon politik atau patform yang mereka sandang. Partai yang mengklaim dirinya “nasionalis” cenderung membuat kebijakan yang “anti-nasionalis”. Partai yang menggunakan visi “relijius” cenderung membuat kebijakan yang keluar dari nilai-nilai “relijius”.

Faktanya, partai yang mengusung ideologi “nasionalis” justru mengimplementasikan agenda-agenda neoliberalisme, seperti melakukan privatisasi BUMN, mengurangi subsidi kepada rakyat, liberalisasi sektor-sektor keuangan dan perdagangan, bahkan pendidikan, yang secara jelas dan nyata menyimpang dari UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dan 2. Apakah itu yang disebut “nasionalis”? Hingga saat ini BUMN yang dikuasai asing sudah mencapai angka dua digit. Alih-alih ingin membangun ekonomi kerakyatan yang dengan susah payah digagas oleh Bung Hatta, tetapi yang terjadi justru ekonomi kapitalisme semakin kuat mencengkeram bumi pertiwi.

Sebaliknya partai yang mengusung ideologi “relijius” justru bersikap sekuler dan cenderung menjauhkan diri dari ideologi partai dan image massa partai. Mereka lebih bersikap mengagendakan kebijakan-kebijakan yang jauh dari normatif dan substansi dari UUD 1945. Jangankan jauh dari tataran normatif UUD 1945, mereka juga jauh dari normatif dan substansi dari nilai-nilai agama mereka sendiri. Bahkan, terkadang menghina agama mereka sendiri.

Memang sekarang sudah bukan zamannya lagi membicarakan masalah “nasionalis” atau “relijius”, yang terpenting adalah kontribusi apa yang bisa diberikan dalam membangun Indonesia tanpa memandang partai itu berlabel “nasionalis” atau “relijius”. Dan mereka mampu meningkatkan kinerja demi rakyat dan membangun negara ini secara konstruktif, yang tentunya masih di dalam koridor makna filosofis Pancasila dan UUD 1945 sehingga kita sebagai masyarakat bisa menilai mana parpol-parpol yang konsisten dan kontributif terhadap pembangunan negara tercinta ini.

Dan perlu diingat, jangan kita memilih partai karena jargon politik apalagi popularitas belaka -melalui iklan politik-, tetapi lihat pula track-record mereka di panggung politik sebagai referensi yang amat penting. Sebelang-belangnya partai, setidaknya pilihlah yang belangnya paling sedikit.

Iklan

12 Responses to “Partai “Nasionalis” atau “Relijius”?”


  1. 1 nurrahman18 November 1, 2008 pukul 7:12 am

    politik…memang kadang seperti itu..menurut saya sebagai mahasiswa, politik ya emang seperti itu, klo ditinjau dari segi ilmiah…tapi klo mo jujur, yg paling penting justru adalah etika menuju nilai tertentu yang dijunjung tinggi dan disepakati bersama. artinya untuk menuju kebaikan bersama, sudahlah, tdak usah mencari kejelekan2 orang lain, kita pikirkan dan jalankan bersama saja demi kebaikan bangsa. klo cuma nyari kejelekan ihak lain, pasti ketemu…..
    indonesia adalah negara yang sangat-sangat komplek,penduduk 200 juta…

  2. 2 Ordinary Kid November 1, 2008 pukul 8:35 am

    @ nurrahman18 : Apakah saya salah mengungkapkan pandangan saya tentang parpol?! Saya hanya ingin membuat balancing dengan komunikasi politik melalui pencitraan -yang masif- lewat media komunikasi, baik cetak maupun elektronik yang kesannya baik-baik saja -tanpa cela-.

  3. 3 fajar November 1, 2008 pukul 10:42 am

    cuman satu kata ajah… di Indonesia kebanyakan partai, yang justru dijadiin buat memecah suara partai yang “ngrasa” besar ajah.

    ^_^

  4. 4 sarahtidaksendiri November 1, 2008 pukul 12:25 pm

    berrat nich..lg pgn cr yg ringan2…hehehe…
    well, apapun itu, cm berharap parta2 dan ‘org2 penitng’ bisa ngebuat Indonesia berubah jd lbh baik… πŸ™‚

  5. 5 Putra November 1, 2008 pukul 3:50 pm

    argh ribet emang kalo pilih pemimpin, masalahnya kalo salah pilih rakyat bakal merana 5 taun…. 😦

    kalo gw sih memantau aja dulu debat – debat calong pemimpin bangsa kita…! dari debat biasanya kita bisa melihat ‘warna aseli’ dari yang berdebat… πŸ˜€

  6. 6 asuna17 November 3, 2008 pukul 6:46 am

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://pemilu-2009.infogue.com/partai_nasionalis_atau_relijius_

  7. 7 nurrahman18 November 5, 2008 pukul 3:20 pm

    to ordinary boy….kupikir bukan penilaian benar-salah mengenai parpol…..parpol kan berpolitik, kadang aku (sebagai orang yang tidak mempelajari politik di bangku sekolahan) masih memandang politik sebagai sesuatu yang sangat “general”, kalau mo dicari-cari, ada aja celah untuk pembenaran…..

  8. 8 nurrahman18 November 5, 2008 pukul 3:25 pm

    oiya, trimakasih atas blogroll nya….semoga menjadi awal hubungan yang baik…salam kenal dan kenalan selalu…he he

  9. 9 Ordinary Kid November 5, 2008 pukul 4:01 pm

    @ fajar: Yup, Indonesia memang menganut sistem multi-partai. Tetapi anehnya kok mereka pada nggak kapok-kapok ya mendirikan partai, padahal untuk bikin partai kan harus keluar duit yang ga sedikit jumlahnya. Kalo masalah “memecah suara”, saya nggak berani berspekulasi.

    @ sarahtidaksendiri: Setuju.

    @ putra: Yup, saya juga seperti Anda.

    @ nurrahman18: Mungkin politik yang Anda persepsikan bahwa tindakan parpol yang saya jabarkan di atas adalah suatu hal yang lumrah dalam proses berpolitik. Dan lucunya, Politik dewasa ini -Indonesia- ya memang seperti yang Anda persepsikan.

  10. 10 ical November 8, 2008 pukul 4:05 am

    Nasib bangsa ini ada di tangan rakyat. Dengan peta pemilu 2009 yang masih samar, rakyat harus cerdas dalam memilih partai politik. Sayangnya, partai politik belum punya tujuan untuk mencerdaskan rakyat.

  11. 11 Xaliber von Reginhild November 12, 2008 pukul 6:45 pm

    Indon itu… agak kurang kerasa ya, orang dari partai mana pun yang mimpin? Rasanya sih ideologi-ideologi yang dibawa partai politik disini itu masih sekedar pegangan dasar sederhana aja, tapi belum fundamental sampai bisa mengubah pola kebijakan sampai ke dasar-dasarnya…

    …kecuali mungkin pas orba dulu. πŸ˜› Tapi itu pengaruh ideologi partai bukan ya?

  12. 12 ardiy Desember 14, 2008 pukul 12:10 am

    Apa yang diharapkan kaum Muslim dari politik praktis yang temporarial? Tidak ada,
    so, my suggestion hanya dengan kembali kepada satu kekuatan umat, Khilafah Islamiyyah, kaum Muslim dapat kembali berwibawa hingga mampu membebaskan kembali negeri-negeri mereka. Insya Allah, tak akan lama lagi
    cacth me on http://www.moslemspirit.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Status

Temporary busy

I'm sorry

Yahoo! Messenger:

der_kaizernism

Column

Tourist Now

Total Tax

  • 9.414 juta
Iklan

%d blogger menyukai ini: