Laskar Pelangi DILAYARLEBARKAN

Novel tetralogi Laskar Pelangi merupakan novel bertema pendidikan yang berkisah tentang perjuangan guru -Bu Muslimah- dan 10 siswa di Belitong untuk mendapat nikmatnya sebuah pendidikan. Jika membaca novelnya, kita seakan ‘ditampar’ Andrea Hirata dengan keterbatasan para laskar pelangi yang memiliki semangat luar biasa hanya untuk bersekolah, seperti si Lintang yang harus mengayuh sepeda tua -yang terkadang rantainya lepas- puluhan kilometer dan melewati beberapa hutan dan bertemu dengan buaya hanya untuk menerima nasihat dan ilmu dari Bu Muslimah dan Pak Harfan. Kita juga seakan merasa ‘kerdil’ dan ‘takjub’ melihat kejeniusan Lintang dan Mahar, dua anak Belitong yang hidup di serba pas-pasan itu.

Di awal kehadirannya pada tahun 2004, Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata memang langsung menggebrak dunia sastra. Goresan pena Andrea menjadi semacam penyejuk bagi penikmat sastra yang haus akan cerita berkualitas. Bahasanya yang penuh dengan metafora sains, meskipun tak sevulgar Supernovanya Dee, membuat novel ini terasa bernilai seni.

Tulisan Andrea Hirata sendiri seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, novel ini mengundang decak kagum para pecinta novel. Andrea terbilang mahir menguntai kata, meskipun terkadang diksinya tidak sesuai. Ia mampu menyulap sains dan seni sastra ke dalam satu kesatuan. Namun, di sisi lain, dalam novel tersebut, Andrea menelanjangi realitas sosial dan pendidikan negeri ini, khususnya di kampungnya, Belitong. Ia seolah-olah ingin mengetuk pintu hati seluruh manusia bangsa ini yang sebelumnya tak sadar atau keras atau bahkan mati, terutama para pejabat yang hanya memikirkan perutnya sendiri.

Cerita ini memang fakta meskipun dibumbui dengan cerita karangan Andrea sendiri. Menurut Andrea sendiri, novel yang sukses menjadi bestseller dan terjual lebih dari 500.000 eksemplar ini, sejak awal memang tidak ditujukan untuk komersial, namun lebih ditujukan untuk bernostalgia dengan masa kecilnya yang menyedihkan sekaligus mengharukan di Belitong, setelah ia berhasil menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan Sorbonne University, Perancis.

Keputusan Andrea Hirata untuk melayarlebarkan novel ini juga bukan sembarangan. Menurut Andrea, banyak para pelaku produksi film yang menawarkan diri untuk memfilmkan kisah masa kecilnya ini. Akhirnya, ia memutuskan Riri Riza dan Mira Lesmana untuk menggarap film bernuansa pedesaan kecil terpencil yang islami ini. Si ikal -begitu sapaan Andrea waktu kecil- menganggap bahwa sutradara dan produser ini merupakan sineas yang memiliki integritas dalam membuat film. Keduanya ia anggap tidak semata-mata membuat film untuk kebutuhan pasar, namun tetap mampu membuat film ‘box office’ yang bermutu. Keputusan Andrea pun menimbulkan kontroversi di kalangan para pecinta Novel Laskar Pelangi. Umumnya, mereka beranggapan bahwa para pembaca Laskar Pelangi sudah memiliki film di kepala mereka masing-masing.

Kedua sineas inipun tidak segan-segan mengambil 12 anak dari Belitong yang berkolaborasi dengan 12 aktor profesional Indonesia. Riri Riza ingin bereksperimen dalam film ini dengan merekrut putra Belitong agar tidak kehilangan ruh dari novel itu sendiri. Ia juga menggandeng grup band Nidji untuk membuat soundtrack Laskar Pelangi, terlepas dari sisi kontroversialnya.

Apakah film yang akan dibuat oleh sineas terbaik negeri ini mampu mewakili visualisasi film yang ada di kepala para pecinta Laskar pelangi? Apakah kedua sineas ini mampu menangkap soul yang ada di novel tersebut? Apakah film ini akan lebih baik daripada novelnya seperti yang diharapkan oleh Andrea Hirata? Apakah film ini akan laku keras seperti film Ayat-Ayat Cinta?

Kita lihat saja film perdananya yang akan tampil serentak di bioskop-bioskop tanah air tanggal 25 September 2008. Film ini sangat direkomendasikan untuk semua umur dan kalangan untuk menambah motivasi dan semangat kita di tengah gempuran film-film yang low quality yang hadir memenuhi board-board ‘box office’.

Iklan

4 Responses to “Laskar Pelangi DILAYARLEBARKAN”


  1. 1 Ghiffari Oktober 2, 2008 pukul 6:16 am

    Wah2, tulisan lo bgs jg ya mat.
    Liat blog gw jg ya.
    Tp isinya puisi. Ksh comment ya.

  2. 2 reatheryan Oktober 19, 2008 pukul 1:45 pm

    kamu penggemar berat novel ini gak?

    tapi kamu bener tentang para pembacanya yang punya film di kepalanya sendiri

  3. 3 Ordinary Kid Oktober 20, 2008 pukul 3:08 pm

    @ reatheryan : Dibilang penggemar juga bisa, tapi ga pake ‘berat’ kok ^^

  4. 4 Dady Doa Desember 20, 2008 pukul 1:58 am

    film itu menunjjukkan bahwa pendidikan dengan hati itu penting
    sekarang bagaimana jadinya jika pendidikan kita telah dikomersialisasikan
    melalui UU BHP, bukan menggunakan hati lagi melainkan menggunakan kepentingan
    yakni kepentingan ekonomi
    saya bukan menolak BHP hanya minta direvisi
    kalaupun DPR tidak mau merivisi minimal pengawasan yang ketatlah yang dibutuhkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Status

Temporary busy

I'm sorry

Yahoo! Messenger:

der_kaizernism

Column

Tourist Now

Total Tax

  • 9.429 juta
Iklan

%d blogger menyukai ini: